Jumat, 02 Maret 2012

Cerpen -Tetaplah Menjadi Matahariku-


Tetaplah Menjadi Matahariku

                Aku bergegas meninggalkan kelasku, setelah pelajaran usai. Hari ini aku berjanji akan menyelesaikan tugas makalahku, sudah berminggu-minggu aku mengabaikannya, untung saja guru mata pelajarannya sangat baik  sehingga memberiku sedikit kelonggaran waktu. Saking tergesa-gesanya aku menabrak seseorang di depan gerbang.
            “Eh, non liat-liat dong kalau jalan, kacamata aja dipake jalan ko ya masih seradak-seruduk” sentaknya membuatku terkejut, aku tak mengenalinya meskipun ia juga berseragam sama denganku, aku melihat sekilas kearahnya yang tampak sangat marah karena diktat-diktatnya berceceran dijalanan, dengan tergagap-gagap aku meminta maaf padanya dan katika hendak membantunya ia lekas pergi menjauh. Aku sangat lelah ingin segera tidur siang untuk beristirahat dari terik matahari yang sering membuat kulitku tampak lebih gelap. Selama menduduki kelas tiga aku disibukkan dengn segudang tugas yang terus menerus mengalir hingga mentok numpuk semua diotakku, mulai dari membuat makalah, karya ilmiah, kliping praktikum, dan segunung PR menghantui hari-hariku. Belum lagi bulan depan aku akan menghadapi Ulangan Tengah Semester Genap, hari-hariku teus terforsir untuk berfokus dengan semua tugas itu. Untung saja aku punya dua sahabat yang baik banget yang paling bisa menghiburku.
Drrrttt...drrrttt....drrrrtttt...drrrttt....
BF_Fahma memanggil
Kutekan tombol hijau di keypad hapeku demi menjawab panggilan telepon Fahma.
            “woy, harus berapa lamasih aku nelpon kamu, susah banget jawabnya” semprot Fahma ketika aku menjawab panggilannya.
            “eh, sori Fa aku lagi diangkot, memangnnya ada apa sih pake acara telpon segala?” jawabku pelan diangkot yang kutumpangi sekarang memang penuh dengan penumpang, jadi tidak enak berbicara keras-keras.
            “besok jangan lupa bawa makalahnya, terus aku pinjem catatan fisika kamu ya” ujarnya
            “Cuma itu?  Kenapa ribet banget telepon sms kan bisa?” cecarku
            “kalau sms kamu ga akan bales, udah ya pulsaku abis nih, besok ganti rugi ya !” tut..tut.. belum sempat aku mencecarnya lagi sambungan teleponnya sudah putus.
Butuh waktu selama kurang lebih 15 menit untuk sampai kerumahku, dan sekarang aku sudah sampai diperempatan rumahku.
            Akhirnya, aku berhasil merebahkan tubuhku diatas kasur empuk kesayanganku, tiba-tiba saja terbesit dibenakku sekelebat bayangan Ardi, seorang lelaki yang berhasil memikat hatiku, dia teman sekelasku dan duduk tepat didepan tempat dudukku, ya aku mengaguminya sejak aku duduk dikelas 7 walau saat kelas 8 aku tak lagi sekelas dengannya, dan awalnya aku pikir ini cinta monyet pertamaku, aku tak tergoda sama sekali untuk berpacaran dengannya, apalagi Ardi seorang Ikhwan dan rasanya nggak mungkin banget buat Ardi berpacaran. Sudah tiga hari ini Ardi jarang mengirim sms padaku biasanya namanya tak pernah absen di inbox hapeku, demi melepas rasa rinduku kutumpahkan semua itu dalam bait-bait puisi yang sudah menjadi hobi abadiku.

Begitu rindunya aku padamu
Hingga bintang-bintang itu pun
Berdecak resah
Tak tau bagaimana menghiburku
Kunantikan setiap syairmu
Kurindukan renyah tawamu
Berjanjilah,
Esok kau kutunggu
Tuk sekedar menyambut tawamu

            Ardi tak pernah tau bahwa aku menukainya, aku berusaha untuk memendam perasaan ini, tak pernah terpikirkan untuk mengungkapkannya, apalagi aku ini seorang perempuan, dan hanya kuceritakan perasaanku pada Fahma dan Rani, dua sahabatku yang paling setia.
            Hari-hariku akan menjadi semakin padat, runyam dengan semua tugas yang terasa begitu berat, tapi mau bagaimana lagi aku harus menyelesaikannya, dengan segenap kerjakeras dan ikhtiarku selama ini akhirnya aku bisa menyelesaikan semua itu dan melewati ulangan demi ulangan disekolah dengan sangat ringan, mungkin orang beranggapan bahwa aku akan sangat mudah menyelesaikan soal-soal ulangan, karena memang tercatat prestasiku yang tak pernah merosot dari tiga besar, dan kini setelah berhasil menghadapi ujian-ujian madrasah, tinggal selangkah lagi aku menuntaskan sekolahku ditingkat pertama.
Malam ini sekolahku mengadakan acara tahlilan untuk menyukseskan pelaksanaan Ujian Akhir Nasional yang hanya tinggal beberap hari lagi, acarapun dimulai dengan pembukaan sambutan dari kepala sekolah dan dari wakil kepala sekolah, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dan kamu tau siapa? Ardi, Ardi yang membacakan ayat suci Al-Qur’an malam ini, kembali terasa semerbak cinta ketika mendengarkan suaranya melantunkan tiap ayat suci Al-Qur’an, dan malam ini terasa begitu damai, ku impikan suaranya menyerukan takbir menjadi imam disetiap shalatku. Dan sampai saat ini aku masih tidak berniat untuk mengutarakan perasaanku, walaupun aku sendiri tak mampu lagi bertahan sendiri menyusun puzzle-puzzle cinta dihatiku yang akupun tak tau siapa yang akan melengkapinya, tapi hatiku terbentang semburat nama Ardi, bagaimanapun juga suatu saat entah itu kapan aku pasti akan menyampaikannya.
“rin, rin . . . “ Fahma mengguncang tubuhku
“eh,apa?” ujarku setenang mungkin, aku tak ingin Fahma mengetahui bahwa sedaritadi aku melamun, tapi toh Fahma sudah tau gelagatku, dia berhasil membaca air mukaku.
“jangan ngelamun aja rin, aku kan udah bilang kamu harus secepatnya kasih tau Ardi, sebelum terlambat,  sebelum kamu berpisah sama dia”. Ujar Fahma berbisik diikuti anggukan pasti Rani.
“a..aku nggak mikirin itu Fa”
“Riana, kamu nggak perlu menutupi perasaanmu sendiri, walau mungkin aku nggak ngerti seratus persen perasaan kamu, seenggaknya aku tau gimana perasaan kamu itu, percayalah sama Allah kalau Ardi jodoh kamu, Allah pasti akan mempersatukan kamu dengannya lagi, yah walaupun itu masih lama banget”. Timpal Rani, nada bicaranya begitu lembut, menenangkan sejenak kegundahanku.
“iya, aku akan bilang tapi nggak sekarang” jawabku pasrah, mereka benar, aku nggak bisa lagi membohongi dan menghalau perasaanku ini, sungguh nyata tergambar dihatiku.
Drrtt..drrtt...
Ada pesan masuk, hey ! dari Ardi.
From : Ardi
Rin, km dmn? Aku bwain srat info ttg SMA Pelita, nti ak ksn.

To : Ardi
Aku d’dpn mshla.
Tiga menit kemudian Ardi sudah tiba dihadapanku.
            “ini, afwan ya aku baru bisa kasih sekarang” ujarnya seraya memberikan beberapa lembar kertas info pendaftaran SMA Pelita, aku memang memintanya untuk mencarikan info tentang sekolah pilihanku itu, karena ada salah satu saudaranya yang bersekolah disana.
            “iya, makasih ya. Kamu jadinya mau lanjutin kemana?” tanyaku
            “aku sih pengennya di SMA Pelita juga tapi, ortuku bakal pindah ke Semarang dan mungkin aku harus ikut dengan mereka” jawabnya pelan
            “tapi kan kamu sudah dewasa, lagipula SMA Pelita kan boarding school” sahutku dengan nada penuh harap.
            “iya, aku juga bilang begitu tapi ortuku bilang akan tinggal cukup lama di Semarang, dan kalau aku tetap memaksa, repot juga sulit bertemu dengan mereka, apalagi jarak dari Jakarta ke Semarang cukup jauh”. Jawabnya panjang lebar, kamu tahu mendengarnya saja bagaikan dihujani kerikil-kerikil tajam, menghujam dihatiku. Untuk sesaat aku terdiam berusaha untuk tidak bersedih, aku tak ingin Ardi tau kalau aku sangat tidak ingin kehilangannya apalagi untuk waktu dan jarak yang begitu jauh terbentang.
            “tentukanlah pilihanmu, aku yakin itu yang terbaik buatmu dan keluargamu”
            “pasti, aku do’akan kamu diterima di Pelita” jawabnya dengan seulas senyum menghiasi wajahnya yang cerah, jwabannya sedikit menghiburku.
            “baiklah, terimakasih ya Di “ ujarku sebelum ia beranjak dari pandanganku.
Akan ku jaga hati ini untukmu, Ardi. Aku kembali bersama Rani, Fahma dan teman-temanku yang lain didalam mushala, dan kamipun melaksanakan Shalat Isya berjamaah.
           
            Setelah menghadapi beberapa Try Out untuk persiapan menghadapi Uan, kini aku dan seluruh kelas 3, termasuk Ardi, benar-benar akan bertemu dengan Ujian Akhir Nasional. Selama empat hari berturut-turut aku kerahkan segala kemampuan otakku untuk bersiap menjawab soal-soal ujian, bertempur keras demi meraih masa depanku.Dan setelah berhari-hari berjuang kami semua boleh berlega hati, menanti hasil ujian dan penilaian rapor yang akan menentukan apakah lulus atau tidak, namun bagiku dan semua siswa kelas tiga masih ada satu tantangn besar lagi untuk menuju sekolah kejenjang yang lebih tinggi, aku terus belajar demi menghadapi tes masuk SMA Pelita.
            Berhari-hari pasca UAN aku benar-benar tak melihat Ardi, rasa sedih kembali menyelimutiku, mungkin dia sudah pergi ke Semarang, dan sedihnya lagi tak ada sepatah katapun yang mengantarkan kepergiannya padaku. Hatiku tak mampu lagi menahan sakit, sedih, dan rindu kuputuskan untuk mengontak Ardi.
To : Ardi
Di, km udh k smrg? Ko jrg k sklh lg?

Lima menit kemudian.

From : Ardi
Afwan ukhti, aku ga kabarin km, aku blm k smrg msh di pdg lg lbran d’rmh sdraku.
Betapa lega hati ini begitu mengetahui Ardi masih disini.


To : Ardi
Emg kpn k smrg’y?

From : Ardi
3 hr lg, o y lsa aku mw ksklh lg

To :Ardi
Ok ! aku tnggu.

Klik aku mematikan hapeku, bukan apa-apa tapi, baterainya udah kosong
            “Rin !” Rani memanggilku dari kejauhan aku berjalan mengahmpirinya.
            “Apa? Fahma mana?”
            “dikelas, gimana tes nya?”
            “aku ga bisa komentar, hehe”
            “ya udah, semoga diterima ya”
            “ Amin, kamu sendiri gimana?”
            “yaah, semoga aja lolos, SMA impianku itu SMA 2” Rani menggandeng tanganku dan membawaku menuju kelas.
            “Rin, gimana? Ardi udah ke Semarang?” tanyanya stibanya aku dikelas dan duduk disampingnya.
            “belum, katanya tiga hari lagi berangkatnya” jawabku lesu.
            “kamu udah bilang?”
            “belum, lusa dia mau kesekolah lagi”
            “Rin, aku ingetin kamu sekali lagi, kamu harus cepat bilang, sebelum semuanya terlambat dan kamu akan susah lagi ketemu sama dia” berulang kali Fahma menyarankanku untuk segera mengutarakan perasaanku pada Ardi.
            “iya Fa” jawabku singkat, aku ingin menangis, perpisahan antara aku dan Ardi sudah didepan mata, ingin aku berteriak dihadapannya kalau aku benar-menar menyukainya, bahkan dihatiku lebih dari itu. Rasanya kau takkan mampu kehilangan Ardi, hari-hariku penuh dengan sinar dari tatapannya yang dingin, yang selalu mengalihkan pandangannya dari mataku, ketika mata kami saling beradu, aku akan merindukan tiap gema suaranya melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang menggetarkan saraf hatiku semakin menarikku kedalam hidupnya, Ya Allah kini hanya Engkau tempatku beradu, Engkau yang mampu mengasihiku, Engkau yang mengatur tiap detak jangtungku, Ya Allah Engkau Yang Maha Membolak-balikkan hati manusia, aku lemah tak berdaya terombang ambing antara kerinduan dan keriasuan hati, terhempas gelombang dahsyat dihatiku, aku tak ingin menjadi majnun, umurku masih tergolong sangat muda, tapi hati siapapun pasti akan mengenal cinta, Tuhan inikah cintaku sesungguhnya? Belum pernah aku merasakan perasaan yang sedemikian menyatu dalam sanubariku. Sorot matanya mengubah duniaku, nasihat-nasihatnya begitu memberiku semangat baru, wajahnya yang cerah laksana matahariku. Ardi.
           
            Malam selalu terasa panjang bagiku, hati ini semakin merindu, ribuan bintang mempesona pun ku tak yakin dapat obati kerinduanku, ah Ardi kenapa kau harus jauh, kehampaan menyelimuti kalbuku berulang kali ku beristigfar dan terus berdzikir untuk senantiasa meminta Rahmat dan lindungan Allah, dan meringankan kerisauan hati ini. Tak sabar lagi aku menunggu kedatangan Ardi disekolah, dan sekaranglah aku bertemu dengannya.
            Fahma dan Rani masih setia menemaniku, meskipun aku akan berpisah juga dengan mereka. Fahma dan Rani memutuskan untuk melanjutkan sekolah di SMA favorit mereka di SMA 2 Jakarta. Hari ini cukup membahagiakan buatku karena aku barusaja menerima surat putusan dari SMA Pelita yang isinya aku berhasil dan diterima si SMA Pelita, SMA impianku sejak dulu, ini sungguh sangat membahagiakan, begitu juga dengan Fahma dan Rani mereka juga berhasil diterima di SMA 2 Jakarta. Terimakasih Ya Allah atas hari bahagia ini.
            Di kelas aku sibuk menulis puisi, menyalurkan hobi abadiku walaupun yang setia melahap karya-karyaku hanya Fahma, Rani dan teman-teman sekelasku. Fahma sibuk dengan majalah Campus barunya, sedangkan Rani sibuk dengan camilanya, kami menikmati kegiatan kami sendiri-sendiri, begitu sunyi. Aku menuliskan sebuah puisi yang aku rasa dapat mewakili perasaanku pada Ardi. Disela-sela keheningan, seorang Ardi muncul diambang pintu menebar senyum yang mampu menuhirku menjadi es, dan dengan wajah yang begitu cerah ceria ia memasuki kelas.
            “eh mas nyelonong aja, bukannya salam malah senyum ga jelas” tegur Fahma yang masih tetap fokus pada majalahnya, Ardi membalasnya dengan senyuman khas, yang mampu membuat setiap orang mengakui ketampanannya, cerminan dari hatinya yang kurasa begitu tulus.
            “hehe, Assalamu’alaikum” kami membalas salam Ardi, Ardi beranjak menuju meja guru dan duduk.
            “wah aku bakal kangen banget sama suasana kelas ini, semoga aja aku masih bisa kesini lagi” ujarnya, matanya menerawang ke langit-langit kelas, sekilas matanya memandangku, sebelum akhirnya beranjak menghampiriku.
            “eh, lagi nulis apa?” tanyanya
            “puisi” jawabku singkat, padahal aku sedang berusaha mengatur detang jantungku yang berdetak begitu cepat, namun kali terasa begitu lembut dan berirama menyanyikan nada-nada cinta, Ardi terdiam memandangku, aku menunduk tak berani menatapnya.
            “ada yang ingin aku bicarakan” ujarnya
            “bicaralah” sahutku, aku berharap ia akan menyampaikan perasaannya bahwa ia juga menyukaiku, tapi . . . .
            “Aku diterima di SMA 1 Semarang dan aku jadi pindah dan tinggal disana” ujarnya datar.
            “syukurlah, Ardi . . . .”panggilku pelan bahkan nyaris berbisik.
            “kamu tahu...” sambungku, diikuti gelengan kepala Ardi.
            “sedari dulu aku pendam semua ini dan baru kali ini aku berani mengutarakannya” Ardi terdiam memandangku tajam.
            “Aku menyukaimu, bahkan dihatiku lebih dari itu, aku ingin suatu saat nanti aku bertemu lagi denganmu, dengan perasaan yang sama, diwaktu yang tepat, Di” ujarku masih pelan, Ardi terdiam ia berusaha mencari kepastian dari apa yang barusan ku katakan, tatapannya merasuk, menembus hatiku.
            “sungguh, aku tidak.....” ucapanku terpotong ketika ia menggelengkan kepalanya, aku menundukan pandanganku, aku takut, aku takut ini salah.
            “kamu tak perlu melanjutkan itu, simpanlah untuk kau sampaikan diwaktu yang tepat, aku tahu Rin namamu Riana Irsalina, aku sudah menanam benih untuk menaruh nama dan cintamu, hingga tiba waktunya mekar dan aku akan kembali menemuimu, menghapuskan semua gundah dan rindumu, karena aku juga sama sepertimu” nadanya begitu damai dihatiku, Terimakasih Ya Allah atas anugrah cinta-Mu yang Fitrah ini, itu ucapan terakhir Ardi sebelum ia terbang ke Semarang, ku percayaimu Ardi, kan kutunggu kau kembali, dan tetaplah menjadi Matahariku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar